Jangan Lupakan Pileg

Pemilu tinggal satu hari lagi. Seharusnya sih kita sudah punya pilihan, baik itu yang jatuh kepada calon presiden maupun calon-calon wakil rakyat yang akan menduduki kursi legislatif nanti. Sayangnya, saking fokusnya dengan isu calon presiden, banyak dari kita yang cenderung abai atau lena terhadap pemilihan calon anggota legislatif (caleg). Padahal, mereka yang nantinya akan duduk di kursi DPR, DPD, dan DPRD juga punya andil besar dalam menjalani pemerintahan.

Setelah mencari tahu lewat polling di Instagram pribadi (@asminurais), ternyata banyak teman saya yang masih bingung memilih caleg. Dari 315 orang yang mengikuti polling kecil-kecilan tersebut, hanya 12% yang menjawab kenal dengan calon legislatif dan sudah punya pilihan. Padahal polling ini saya keluarkan pada Selasa (9/4), delapan hari sebelum Pemilu berlangsung, lho! Polling kecil-kecilan saya ini kemudian diperkuat oleh hasil survei Line Today yang menyebutkan bahwa 85% penggunanya (24.432 responden) tidak mengenal profil para calon anggota legislatif. Hadeuh…

TINGGAL MENGHITUNG HARI, KENAPA MASIH BINGUNG JUGA?

“Gue sampe detik ini masih bingung milih presiden tahu, padahal tinggal menghitung hari. Kalau caleg apalagi. Lo emang udah tahu mau pilih siapa tanggal 17 April nanti?” kata Luthfia Erfira @luthfiaerfira lewat direct message (DM) Instagram. DM ini menjadi kepanjangan dari jawaban polling yang dia berikan.

Berbeda dengan Luthfia, Andini Pradya Savitri (@andinipradya) mengaku kenal secara personal dengan beberapa caleg di daerahnya. Dia bilang, “Tanteku caleg DPRD. Dia memang aktif di suatu partai. Terus ada kakak tingkatku juga jadi caleg, dia anak public relations dan kerjanya jadi news anchor di TV lokal. Aku masih ragu-ragu, meskipun dia tanteku tapi aku merasa perannya kurang kuat di situ (politik). Sedangkan untuk kakak tingkatku, aku ngerasa cocok-cocok aja sih. Aku suka cara dia bawain visinya sebagai perwakilan generasi muda, tapi ya ada sedikit ragu juga soalnya aku masih nggak terlalu akrab.”

Sementara itu, Yogi Miftahul Fahmi (@yogimfahmi) justru merasa sudah sangat mengenal caleg DPRD yang akan dia pilih nantinya. Sayangnya, khusus DPD dia masih bingung hendak memilih siapa. Dia berpendapat, “Kalau melihat apa yang ditawarkan, visi-misi dan caranya berpolitik, menurutku dia pantas untuk dipilih. Kita perlu wakil rakyat yang paham tugas fungsinya seperti apa, visinya apa, programnya apa. Nah, yang akan kupilih ini terbilang seperti itu meskipun tentu ada sisi lain yang lemah. Tapi kalau DPD sih masih gelap ya.”

Dari hasil berbincang dengan beberapa kawan, timbul pertanyaan di kepala saya: Kok bisa? Bagaimana nasib parlemen nantinya kalau sampai detik ini masih banyak orang yang bingung dalam memilih caleg?

Untuk memecah rasa penasaran, saya mengajak berbincang Pradika Nandyo, Caleg DPRD Subang Jawa Barat, lewat Whatsapp pada Jumat (12/4). Sebagai caleg dengan usia tergolong muda, Nandyo mengaku lebih gencar melakukan sosialisasi visi-misi lewat media sosial dan website. Namun, dia juga tetap menyebar atribut kampanye konvensional seperti baliho dan poster untuk menyasar masyarakat tradisional.

“Di medsos sendiri tantangannya lumayan berat, karena selain dari kami sendiri yang harus aktif bikin dan sebarin konten, ada juga peran dari masyarakat pemilih. Di medsos kan kebanyakan anak-anak muda, mereka sudah seharusnya berperan aktif buat kepo dan cari tahu sendiri, tapi kan kami nggak bisa maksa mereka juga buat sengaja baca dan nemuin kampanye kami di medsos. Jujur sih, nggak gampang buat menggaet suara anak muda. Penyebabnya, banyak anak muda yang sebenarnya mau peduli tapi malah malas dan jadinya cenderung apatis sama politik. Itu wajar dan lumrah sih, justru jadi tugas kami (menggaet mereka),” paparnya.

LANTAS, SOLUSI CEPATNYA BAGAIMANA?

Masalahnya, Pemilu sudah tinggal menghitung hari. Terlampau mustahil mengubah kebingungan menjadi keyakinan dalam waktu yang begitu singkat. Di samping itu, tidak bisa dipungkiri kalau tidak semua orang punya ketertarikan kuat terhadap dunia politik. Kita tidak boleh naif terhadap fakta bahwa tidak semua orang rajin mencari tahu visi dan misi para calon anggota legislatif satu per satu. Ingat, kita tidak bisa memaksa semua orang untuk tiba-tiba menjadi sangat peduli dengan para calon yang akan mereka pilih.

Eits, tapi tenang saja. Setelah mengobrol dengan beberapa teman yang menjawab polling di Instagram, saya memperoleh berbagai pandangan tentang cara meyakinkan diri di sisa waktu yang singkat ini. Nah, setidaknya ada empat hal praktis yang bisa kita lakukan supaya nantinya kita tidak memilih secara asal-asalan.

●        Memilih Berdasarkan Ikatan Personal

Kalau salah satu atau beberapa calon anggota legislatif punya ikatan personal dengan kita, coba beri perhatian lebih terhadap mereka. Entah itu teman satu sekolah, teman kuliah, sepupu, om, tante, atau bahkan tetangga. Cari tahu kegelisahan mereka alias alasan kenapa mereka mencalonkan diri untuk bisa duduk di kursi legislatif. Ingat-ingat juga track record mereka di lingkungan.

Setelah berbagai informasi terkumpul, kita renungkan apakah alasan mereka cukup kuat dan sejalan dengan misi yang mereka jalani selama ini. Manfaatkan ikatan personal untuk mencari tahu lebih jauh, entah itu lewat temannya, keluarganya, atau bahkan tanya langsung ke orangnya. Siapa tahu mereka adalah calon yang kita cari.

●        Memilih Berdasarkan Kemudahan Akses di Ranah Digital

Beberapa caleg muda cukup gencar mensosialisasikan visi dan misi mereka lewat media sosial. Bahkan, beberapa di antaranya sering menampakkan diri di YouTube. Baik secara sengaja ataupun tidak, informasi tentang mereka jadi lebih mudah kita akses. Masalahnya, caleg yang tidak terlalu populer di dunia digital juga banyak, bukan?

Jika kita terlalu malas untuk membandingkan calon tersebut dengan calon-calon lain yang wajahnya sama sekali tidak familiar di internet, yang perlu kita lakukan adalah menggali visi dan misi mereka secara pribadi maupun partai. Stalking, kalau kata anak muda zaman sekarang. Intinya sih, memilih calon yang visi-misinya lebih mudah diakses, why not?

●        Kepo Melalui Platform Pemilu

Beberapa di antara kita mungkin merasa tidak puas dengan hanya mengenal beberapa caleg yang sering muncul di internet. Di satu sisi, kita butuh membandingkan mereka dengan caleg-caleg lainnya. Namun di sisi lain, kita tidak punya banyak waktu untuk menjelajahi media sosial semua caleg satu per satu.

Kalau sudah begini, kita pakai jalan pintas saja: buka situs yang menyediakan database semua caleg dan partainya. Selain situs resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU), kita juga bisa memperoleh informasi tersebut dari aplikasi Line Today, situs pintarmemilih.id, jariungu.com, kenali.id, dan calegpedia.id. Ada pula situs wikidpr.org dan rekamjejak.net yang bisa kita gunakan untuk mengecek kinerja caleg yang sempat menjabat sebelumnya.

●        Memilih Berdasarkan Partai

Tidak ada caleg yang kita kenal secara personal, tidak pernah menonton konten-konten YouTube yang ada calegnya, tidak yakin dengan caleg-caleg yang wajahnya tersebar di baliho, tidak pula yakin dengan visi-misi singkat yang dijabarkan di platform-platform berisi informasi seputar pemilu. Ini sih bingungnya sudah tingkat akut!

Sebetulnya, ada satu cara bisa kita lakukan ketika sudah benar-benar mentok: pilih berdasarkan partai. Cara ini cenderung lebih mudah karena yang perlu kita lakukan adalah mengecek visi, misi, rekam jejak, dan program yang ditawarkan oleh 16 partai di pemilu kali ini. Nantinya tinggal kita coblos deh caleg-caleg yang diusung oleh partai yang kita pilih. Tujuan dari cara ini adalah membuat partai tersebut lolos parliamentary threshold sehingga program-programnya dapat dijalankan begitu memasuki masa jabatan pemerintahan.

 

Tentang Pencipta

Asmi Nur Aisyah, Freelance Writer